Rumah = Jogja

Posted in life on April 8, 2011 by ajibaskara

image

Halo. Hari ini jumat pagi. Packing hampir beres(hampir artinya belum), jam 17.00 nanti berangkat ke semarang. Untuk besoknya menuju kalimantan.

Sebenarnya sebagai seorang mahasiswa geologi, sepenuhnya saya sadar bahwa setelah lulus nanti, peluang untuk bekerja di pulau jawa tidak sebesar peluang bekerja di luar jawa. Memang di jawa juga terdapat tambang2 emas maupun cekungan2 minyak potensial atau sudah berproduksi semacam cepu. Atau bisa juga bekerja di kantor pusat perusahaan2 besar di jakarta, jika kita cukup pintar dan beruntung. Tapi tetap saja bekerja di luar jawa adalah kemungkinan terbesar.

Sebagai orang asli jogja(bantuland), yang sebelumnya ga pernah keluar dari jawa, tentu menjalani hidup di pulau seberang merupaka tantangan tersendiri. Perbedaan budaya, bahasa. Hal2 semacam itu.

Beberapa rekan saya yg telah bekerja juga begitu. Hidup dari kecil, di jogja yang nyaman dan ramah. Mencari nafkah di rantau. Ada yang sampai Kalimantan. Maluku. Papua.
Maka kesempatan untuk hidup di tengah hutan borneo, tidur beralas tanah dan beratap langit (sebenarnya beratap tenda, karena nanti sehari2 tidur di flying camp (sebenernya campnya di tanah kok,terminologi flying menurut saya diganti saja dgn moving(maaf kurung di dlm kurung:) (ups smiley nya juga ada tanda kurungnya :D))))

Yang kemudian ingin saya bilang adalah, betapa nyamannya rumah, dlm hal ini adalah jogja, pada periode hidup tertentu kita harus keluar dari zona nyaman ini. Melanjutkan hidup di rantau. Untuk kemudian berharap bisa menghabiskan masa pensiun di jogja. Di jogja, Yogyakarta berhati nyaman. Tempat paling nyaman di dunia. Karena seluruh hidupku ada disini.

Advertisements

twit

Posted in Uncategorized on November 16, 2010 by ajibaskara

asyik ya mainan twitter?

 

Twitter dengan segera menggeser facebook dari daftar situs jejaring sosial yang paling sering saya buka. Bukan hanya kesederhanaannya dalam membagi informasi penting saja, namun terkadang apa yang teman kita lakukan juga sering dituliskan, sedang dimana, melakukan apa, bersama siapa. Maka dari itu twitter juga disebut microblog. Katanya lho.

Kemudian ada istilah follow, following, follower. List twit yang akan muncul di timeline kita. Yang kita follow biasanya account twitter yang membagi informasi, atau account artis, public figure, dan tentu saja teman kita.

Follow back aku yach 🙂

pernah mendapat twit seperti itu dong ya setelah account kita difollow teman. Lalu kita ndak enakan, lalu difollow deh.

Tapi percayalah, ga semua orang ingin tau apa yang terjadi di kehidupan kita. Apalagi jika kita termasuk orang yang tiap detik ngetwit “duh tvnya jelek”, “ah laper”, “ah kamu nyebelin”, ‘enaknya ngapain ya?”. Its okay kalau ga keseringan. Tapi ada sejenis pengguna twitter yang tiap 1 menit ngetwit sesuatu, apapun itu. Khususnya para pengguna gadget yang marak akhir2 ini, dimana ntar di bawahnya bisa muncul tulisan via Ubbertuitwit. Mereka punya kecenderungan untuk RT2an 2 kali semenit. 3 kali kadang. hebat deh, timeline langsung penuh dengan informasi yang mungkin sama sekali ga ingin kamu tau.

@tumini beli di pasar banyak RT @didots: sempagku habis, cucian ga kering

atau hal2 yang mungkin lebih enak ditanyain lewat sms, tapi karena gagdetnya canggih mereka mikirnya enakan via twitter

ng.

Atau twit yang sangat tidak bisa kita mengerti. Umumnya mereka2 di dunia maya dan dunia ABG menyebutnya galau. pake hashtag juga boleh. Cirinya mirip2 lirik lagu emo. Mendesah, mengerang, sambat 😀 ITs okay sesekali, tapi jika tiap hari update twitnya begono doang. Sapek dehs

Annoyin tweets. Annoying user.

Twitter rasanya lebih privasi, dibanding ringsos (soc. networks) lain. Yang ingin kita follow, adalah orang2 yang memang kita ingin tau kehidupannya. Teman kita, yang mungkin sepaham, sehingga kadang twit2nya bisa menginspirasi kita.

Masalah follow dan followback ga ada hubungannya dengan temenan di dunia nyata, ga follow bukan berarti ga temenan kan. begitu kata teman saya.

Have fun with twitter, keep updated 😀

titi kala mangsa. Sujiwo Tejo.

Posted in music on November 13, 2010 by ajibaskara

wong takon wosing dur angkara / manusia bertanya kapankah angkara murka berakhir

antarane rika aku iki / diantara engkau dan aku

sumebar ron ronaning kara / bertebaran dedaunan kara

Janji sabar, sabar sak wetoro wektu / mohon bersabarlah, sabar untuk sementara

Kolo mangsane nimas, titi kala mangsa / nanti suatu ketika adinda, pada suatu ketika

Pamujiku dibisa, sinuda kurban jiwangga / Doaku semoga, berkurang korban jiwa raga

Pamungkase kang dur angkara / akhir dari angkara

titi kala mangsa / pada suatu ketika

 

 
Sujiwo Tejo, titi kala mangsa.
Mungkin beberapa kali lagu ini dituliskan dalam blog. Namun saya ingin menuliskannya lagi. Ini adalah lagu yang sangat berkesan, sangat melekat dalam diri saya. Merinding rasanya tiap kali  lagu ini terdengar, bahkan hanya saat terngiang saja.

Lagu ini pertama kali saya dengar saat saya masih mengenakan seragam merah putih. Saat duduk di bangku SD. Sejak itu pula lagu itu sering terngiang, sampai sekarang, meskipun  bertahun2 tidak diperdengarkan lagi. Hingga saat merapi menjadi pusat perhatian media, lagu ini menjadi salah satu backsound liputan tentang Merapi, dari salah satu stasiun televisi swasta.
Entah apa yang ada di kepala Bapak Sujiwo Tejo saat menulis lagu ini. Yang jelas beliau adalah seorang seniman, seniman yang luar biasa. Seniman jenius. Tak  mungkin apa yang saya tangkap dalam 8 baris lirik di atas sesuai dengan apa yang beliau ingin sampaikan.

“pamungkase kang dur angkara. Titi kala mangsa”
pada suatu ketika nanti, pada saat angkara lenyap. pada suatu ketika.


(semoga korban bencana Merapi, Mentawai dan jiwa2 yang telah menghadap Yang Kuasa diberikan pengampunan. Semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Semoga negara ini segera bangkit. Semoga berakhir angkara murka. Berakhir penderitaan. Nanti, pada suatu ketika.)

trust

Posted in Uncategorized on September 14, 2010 by ajibaskara

percaya

betapa sulitnya mendapatkan kepercayaan seseorang atas diri anda. Dalam segala hal. Dunia kerja, pernikahan, persahabatan, band, dalam hubungan apapun. Sulit mendapatkannya.

kemudian saat anda mulai belajar melupakan, dan belajar percaya, lalu tiba2 ada kejadian yang merusak kepercayaan anda. Bagaimana rasanya?

Mungkin anda akan sulit untuk percaya. Karena kepercayaan kadang dibangun atas hal-hal kecil. Dan bisa dirusak juga dengan mudah dengan hal-hal kecil.

Maka, jika anda berada dalam suatu hubungan apapun, jagalah kepercayaan yang diberikan mitra anda, pacar anda, istri/suami anda. Sungguh, setiap hal kecil yang merusak kepercayaan seseorang terhadap anda, yakinlah anda akan membayar mahal atas semua itu.. Dan bisa jadi, semua ga akan sama lagi karena itu.

That’s the rule.

TRUST me.

Solo

Posted in music on September 6, 2010 by ajibaskara

Tampil solo adalah hal yang belum pernah saya lakukan.

Tapi mungkin bakal terpaksa dilakukan, karena partner saya mas lingga tiba-tiba memutuskan untuk ga hadir dan ga ikut bermain :(( Maka formatnya  harus diubah.

Ga tau nantinya bagaimana, saya nekad aja. Nyanyi jelas saya ga PD. All i’ve got is guitar. Bukan gimana2, karena itulah satu2nya yang bisa saya mainkan.

Maka hari ini saya udah donlot backing track/minus one lagu2 yang kira2 asik untuk dimainkan. Masalah nanti bagaimana bermainnya, nekad ajalah..

atau nanti

saya pura2 main gitar aja. Muter mp3.

manteb.

subjektivitas. selera.

Posted in music on August 27, 2010 by ajibaskara

Post saya mungkin tak jauh-jauh dari musik.

Kali ini saya ingin berbagi, berbagi subjektivitas. karena bicara tentang musik adalah bicara tentang selera. Subjektif. Jika anda adalah penggemar band-band melayu yang tengah akrab di telinga Indonesia akhir-akhir ini, kemudian anda diolok-olok karena itu, maka anda berhak marah. Tapi anda juga harus siap dihina dina jika kemudian di atas panggung membawakan lagu-lagu mereka. Subjektif. Adil kan 🙂

Nah saya tiba-tiba terfikirkan tentang ini, tak lain karena beberapa minggu lagi saya dan rekan saya Lingga Isnatan diminta tolong rekan semasa SMA untuk ikut mengisi acara Syawalan Alumni SMA N 1 2006. Bukan acara besar, hanya dengan format akustik saja. karena pada syawalan tahun lalu kami juga menjadi wakil dari kelas kami (eks) untuk memberikan persembahan atau hiburan. Tahun lalu kami nekad membawakan lagu dari Sigur ros, njosnavelin. Saya yakin mungkin hampir tak ada yang tau apa yang kami nyanyikan. Tapi toh kami tak peduli, dan rupanya ada juga segelintir yang mengapresiasi apa yang kami tampilkan, meski mungkin tak sedikit yang ngedumel, “do nyanyi opo to? boso opo kui?”

Maka untuk tahun ini, insyaAllah jika jadi tampil dan mas Lingga belum penempatan, kami akan tampil dalam format yang sama. Sederhana, sembarangan, dan semaunya. Ingin rasanya membawakan lagu dari Melbi, Sigur ros, the trees and the wild. Dan mungkin 1 lagu dari depapepe, yang sedikit mainstream.

Umumnya jika anda diminta untuk tampil menghibur, maka anda juga harus memilih materi yang benar-benar menghibur audiens. Misalnya dengan lagu-lagu mainstream, supaya semua bisa ikut sing along. Tapi untuk acara kecil ini biarlah kami sedikit idealis. Maka jika saat saya disuruh bermain di kampus dan membawakan lagu-lagu top 40,  di kesempatan nanti, biarlah para audiens menebak apa yang kami mainkan. Merdu atau sumbang, biarlah nanti kami dinilai. Karena terkadang kita butuh keberanian untuk menunjukkan sisi idealisme kita. Ini mungkin hanyalah acara kecil, tapi bagi saya saat-saat seperti ini, adalah kesempatan, ajang, wadah untuk melampiaskan hasrat bermain musik. Musik yang sesuai dengan keinginan saya.

Meski nanti terdengar sumbang, yang penting rekan-rekan sudah mendengarkan. Jika merasa ingin tau, kemudian mencari info tentang sigur ros, maka saya ikut senang. Bisa berbagi keindahan musik Sigur Ros yang penggemarnya di sini mungkin minoritas.

Maka jika ada kesempatan suatu hari nanti, saya ingin musik karya saya sendiri yang saya perdengarkan. Seperti kata mas Iga Massardi:

Seni adalah sebuah bentuk. Sebuah bentuk yang nyata. Bukan hanya pemikiran dan persepsi belaka.

jonsi birgisson of sigur ros

Is this the life you wanna live?

Posted in Uncategorized on August 23, 2010 by ajibaskara

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih pada bapak Mirejo selaku kepala Dukuh Ngemplak yang telah…. Ah maaf. Masih terbawa suasana KKN.

This is my very first blog post, maksudnya di WordPress ini. Sebelumnya saya sempat cukup intens menulis di blog. Waktu itu di blog fasilitasnya Friendster, dan seiring waktu berjalan maka saya merasa blog tersebut sudah tidak relevan lagi untuk menjadi sarana menulis :D Dan memang sudah lama sekali saya tidak menulis. Dan saya sedang ingin menulis.

Oke, judul di atas sedikit berlebihan. Tapi sepertinya itulah yang ada di kepala saya sekarang. Kalo ga salah judul di atas artinya, “apakah ini hidup yang ingin kamu hidupi?”, atau semacam itulah, maaf, males buka google translate.

Saat ini saya beserta teman-teman seangkatan saya sudah memasuki tahap kehidupan yang bisa dibilang merupakan ancang-ancang menuju level kehidupan yang lebih tinggi. Umur kami sekitar 21- 22 tahun. Tentunya di usia-usia ini kami mulai meraba-raba masa depan kami. Usia-usia ini, usia dimana kami mengenakan toga(tapi saya belum. …), merasakan kebahagiaan sesaat karena merasa masa studi yang panjang dan berat telah berakhir(atau dilanjutkan, terserah sajalah). Kemudian bersiap berjibaku mengejar cita. Mengejar profesi yang diinginkan, yang ujung-ujungnya tentu bermuara pada satu tujuan, kemakmuran, kesejahteraan. Manusiawi. Monoton.

Saya tidak ingin munafik. Saya juga mengejar itu semua. Saya hanya merasa sedikit hambar. Ini masalah bagaimana cara kita menjalani kehidupan kita.

Saya adalah seorang mahasiswa geologi. Dan saya menikmatinya. Tentu saja keinginan saya adalah menjadi seorang geologis. Tapi jika sedikit menoleh ke belakang, sedikit mengenang masa-masa kecil saya. Pernah suatu ketika saya merasa sangat ingin menjadi seorang koki. Seorang koki professional. Maka saya pun saat itu meminta pada ibu saya, nanti jika lulus saya ingin bersekolah di akademi pariwisata, untuk mendalami ilmu memasak. Saya tau saat itu saya sangat serius. Ibu saya mengiyakan.

Kemudian saat smp, saat saya mulai mengenal musik. Mengenal asiknya berada di atas panggung. Mengerti bahwa sangat menyenangkan jika kamu bisa memperdengarkan permainanmu, suaramu, karyamu; atau setidaknya caramu meng-kover lagu orang lain. Lalu saya ingin menjadi seorang musisi. Seorang gitaris.

Waktu kemudian berlalu. Saya menginjak bangku SMA. Di sebuah SMA dimana para siswanya adalah siswa-siswa spesial. Dengan intelejensia di atas rata-rata. Rajin. Belajar fisika adalah sesuatu yang mengasikkan. Rumus-rumus kimia adalah rutinitas yang menyenangkan untuk dihadapi. Integral adalah mainan.

Saya merasa beruntung berada di sekolah tersebut. Tapi kemudian saya merasa dikondisikan. Dikondisikan untuk ikut menjadi pandai, untuk kuliah di universitas negri ternama. Malu jika tidak diterima. Karena 90 persen teman saya nanti pasti akan diterima di universitas negri bagus.

Maka secara perlahan, hilanglah keinginan saya menjadi koki. Pelan namun pasti, cita-cita untuk menjadi seorang musisi meredup. Digantikan dengan keinginan menggebu untuk belajar serius, kemudian diterima di universitas bagus.

Sungguh, tidak ada yang salah dengan keadaan saya sekarang. Saya belajar di universitas yang memang saya inginkan. Dan saya juga serius memperjuangkan studi saya. Ingin segera lulus, kemudian bekerja. Menmbahagiakan ibu, mencari bekal hidup.

Sungguh tidak ada yang salah. Sungguh, saya bersyukur.

Namun ada kalanya pikiran seperti ini muncul. Bagaimana jika dahulu saya mengambil sekolah menengah musik? Atau setidaknya, bagaimana jika saya sungguh-sungguh fokus pada musik, mengembangkan apa yang masih bisa dikembangkan, merealisasikan persepsi dan pemikiran (baca: berkarya). Karena pada akhirnya saat ini musik hanya menjadi hobi saya. Tidak membuat saya produktif menciptakan karya. Karena saya nantinya akan lebih serius mengerjakan tugas akhir. Tapi sekali lagi. Bagaimana jika akhirnya bisa beekerja sebagai seorang komposer, gitaris, guru musik.

Well, ini hanya pemikiran saja. Saat ini seperti yang saya katakan, saya harus berjuang untuk segera lulus. Untuk kemudian melangkah menuju tahap kehidupan yang lebih tinggi. Saat ini biarlah musik menjadi hobi saja. Sesekali bermain di atas penggung untuk memuaskan hasrat.

Tapi mungkin saya bisa melakukan sesuatu nanti.

Selamat beraktivitas. Dan selamat menunggu berbuka puasa. Hehe.